Showing posts with label Penis. Show all posts
Showing posts with label Penis. Show all posts

Tuesday, November 16, 2010

Berapa Ukuran Penis Normal?

T: Berapa besar ukuran penis yang normal?

J: Jika ukuran penis Anda 8-9cm ketika ereksi, maka Anda berada dalam kategori normal. Hingga kini, belum ada metode yang terbukti secara ilmiah dapat membuat penis lebih panjang dan besar, kecuali melalui operasi.(kompas,Kamis, 1 April 2010)

Gagal Ngeseks Gara-gara Penis Terpeleset Keluar




T. Kami pengantin baru dan sejak kami menikah hubungan seks kurang baik. Penis suami saya selalu terpeleset keluar dari vagina saya. Alasan dia karena penisnya terlalu pendek. Apakah ukuran itu penting, Dok?


J. Posisi, posisi, dan posisi! Penis yang pendek bisa membesar ke ukuran wajar jika distimulasi dengan baik. Pastikan Anda berada di posisi seksual yang tepat dan pasangan dapat mempertahankan ereksinya sebelum penetrasi. Empat posisi yang harus kalian coba adalah: posisi doggie, posisi ular, kuping kelinci, dan formasi V. Ingatlah bahwa penetrasi bukan kunci satu-satunya untuk meraih hubungan seks yang luar biasa. Ada cara-cara lain yang bisa dilakukan untuk memperoleh kepuasan seksual. Fokuslah pada foreplay dan stimulasi klitoris. Setelah suami Anda menguasai teknik memuaskan tanpa penisnya, maka penetrasi menjadi urutan kedua. (Kompas,Jumat, 12/9/2008 )

Penis Bengkok akibat Masturbasi?

"Saya seorang pria berusia 32 tahun, belum menikah. Saya mengalami kelainan alat kelamin dan gangguan seksual. Dari dulu sampai sekarang saya masih sering melakukan masturbasi. Hal ini sudah berlangsung mungkin lebih dari 10 tahun. Sekarang alat kelamin saya tidak lurus atau bengkok ke kiri, bengkokannya sekitar 30  derajat lebih.

Apakah ini terjadi karena saya sering melakukan masturbasi? Mungkinkah kebiasaan saya memakai celana dalam ketat yang menyebabkan pembengkokan?
Apakah ini akan memengaruhi ketika melakukan hubungan badan (misalnya istri merasa sakit karena miring)? Apa yang harus saya lakukan?

Saya masih ingat waktu dulu saya sering terangsang ketika melihat wanita yang seksi. Sekarang, jangankan melihat wanita seksi, mungkin menonton blue film pun saya belum tentu terangsang. Apakah ini terjadi karena masturbasi yang saya lakukan?
BI, Jakarta

Terpengaruh Mitos
Tampaknya mitos mengenai masturbasi masih kuat memengaruhi persepsi masyarakat. Padahal, informasi yang benar tentang masturbasi cukup sering disampaikan melalui berbagai kesempatan.

Masih banyak orang yang beranggapan salah tentang masturbasi, seperti Anda. Banyak orang yang beranggapan bahwa masturbasi dapat menimbulkan akibat antara lain menjadi mandul, gangguan ereksi, tulang keropos, dan memori terganggu.

Yang benar, masturbasi tidak menimbulkan akibat buruk apa pun secara fisik. Pendapat ini didasarkan pada banyak penelitian yang telah lama dilakukan.

Memang pada abad ke-18 pernah beredar buku yang menguraikan berbagai penyakit akibat masturbasi. Buku itu cukup menggemparkan, bukan hanya pada waktu itu, tetapi hingga untuk waktu yang lama. Namun, setelah banyak penelitian yang dilakukan dengan benar, terbukti dengan jelas bahwa masturbasi tidak menimbulkan akibat buruk apa pun secara fisik.

Bagaimana dengan akibat psikis? Akibat psikis, seperti perasaan bersalah, dapat timbul bila yang bersangkutan menganggap aktivitas melakukan masturbasi merupakan perbuatan dosa. Meski begitu, kalau yang bersangkutan tidak menganggap itu suatu dosa atau kesalahan, tidak akan muncul akibat psikis. Jadi, akibat psikis yang mungkin muncul sangat bersifat subjektif. 

Aktivitas masturbasi sebenarnya telah dilakukan oleh setiap manusia pada masa anak-anak, baik wanita maupun pria. Dalam perkembangan psikoseksual setiap manusia, ada suatu fase ketika anak-anak senang memegang-megang kelaminnya.

Bahkan, sebagian anak dapat mencapai orgasme. Sesungguhnya ini adalah suatu bentuk masturbasi, seperti yang dilakukan remaja dan dewasa. Bedanya, pada masa anak-anak masturbasi tidak direncanakan.

Mengenai penis Anda yang bengkok ke kiri, saya berani pastikan itu bukan akibat melakukan masturbasi. Penis normal memang tidak harus lurus benar ke arah depan, terutama pada saat ereksi. Keadaan bengkok normal ini umum terjadi dan tidak menimbulkan keluhan dan masalah apa pun.

Namun, ada juga keadaan tidak normal yang mengakibatkan penis menjadi bengkok dan terasa sakit khususnya ketika ereksi. Akibatnya hubungan seksual terganggu, bahkan terhambat. Gangguan ini terjadi pada penyakit peyronie.  

Konsultasi Seksologi di Tabloid Gaya Hidup Sehat dengan Prof. Wimpie Pangkahila, Sp.And (*)
(*) Spesialis Andrologi dan Seksolog serta dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana,  Bali  (Kompas,Sabtu, 28 Maret 2009)

Tambah Ukuran Penis, Apa Gunanya?


Saya umur 35 tahun, menikah dua tahun lalu. Tidak ada masalah dalam hubungan seks, istri bisa puas. Belum lama ini ada dokter yang memberi informasi bahwa dia punya cara membesarkan penis.

Mohon informasi, betulkah ada cara yang benar menurut ilmu kedokteran bahwa penis dapat diperbesar dengan suntik? Kalau ya, bagaimana caranya? Apakah cara itu benar dan aman? Apakah ada gunanya memperbesar ukuran penis?
- T.T, Jakarta

Untuk apa?
Agaknya mitos ukuran penis tetap beredar, bahkan ada dokter yang mengaku mempunyai cara memperbesar ukuran penis. Padahal, ada tiga pertanyaan yang perlu dicermati mengenai ukuran penis.

Pertama, ukuran penis yang telah berkembang normal sesungguhnya merupakan ukuran yang normal. Kedua, ukuran penis tidak berkaitan dengan fungsi ereksi dan kemampuan mengontrol ejakulasi. Kedua fungsi inilah yang penting bagi pria dalam konteks hubungan seksual yang memuaskan.

Ketiga, ukuran penis tidak berkaitan dengan kemampuan merasakan dan memberikan kepuasan seksual kepada pasangan. Jadi, sesungguhnya tidak ada alasan ilmiah berkaitan dengan fungsi seksual untuk menambah ukuran penis.

Kalaupun itu dilakukan, apa yang dimaksud dengan menambah ukuran penis? Menambah panjang, menambah besar, atau apa? Pertanyaan ini mutlak perlu diajukan, mengingat penis pada dasarnya terdiri atas ruang-ruang pembuluh darah. Sebagian kecil adalah kulit dan jaringan ikat.

Karena sebagian besar terdiri dari ruang-ruang pembuluh darah itulah, tidaklah rasional jika ukuran penis ditambah. Apakah ruang pembuluh darah itu yang akan ditambah ukurannya karena merupakan bagian terbersar dalam penis? Jawabannya tidak mungkin.

Karena itulah, yang selama ini dilakukan oleh pemasang iklan untuk menambah ukuran penis adalah dengan menyuntikkan bahan ke bagian bawah kulit penis. Bahan yang disuntikkan dapat berupa silikon cair atau kolagen.

Akibatnya sungguh mengerikan. Batang penis menjadi besar, berbenjol, tidak normal, tetapi bagian kepala penis tetap kecil sehingga terkesan aneh dan mengganggu. Sebagian orang mengalami gangguan ereksi, bahkan ada yang meninggal.

Saya cukup banyak menerima korban, para pria yang menerima suntikan silikon pada penisnya. Memang sungguh mengerikan perubahan bentuk penis yang menjadi tidak normal itu.

Beberapa waktu terakhir ini, beberapa pemasang iklan itu menyatakan menggunakan "minyak orang-orang" untuk disuntikkan. Namun, melihat reaksi yang terjadi, saya percaya mereka tetap menggunakan silikon cair atau kolagen.

Pernah juga cara operasi coba dilakukan untuk menambah ukuran penis. Caranya dengan menyisipkan tulang rawan untuk menambah ukuran panjang. Terbukti, cara itu tidak diminati. Mungkin karena tujuan menambah ukuran penis tidak jelas.

Kini pengobatan dengan sel punca dari sel lemak sedang dikembangkan. Proses itu pun dimanfaatkan untuk memperbesar ukuran penis. Namun, kalaupun kelak digunakan, hal itu tidak akan memberikan hasil seperti yang diharapkan.

Masalahnya kembali pada struktur penis yang sebagian besar terdiri dari ruang-ruang pembuluh darah. Penis pun bukan otot yang dapat diperbesar dengan latihan beban. Namun, masalah utamanya adalah untuk apa menambah ukuran penis?

Dijawab oleh Prof.Dr.dr.Wimpie Pangkahila, Sp.And (kompas,Senin, 24/5/2010)

Warna Penis Gelap Gara-gara Sering Masturbasi?

T. Warna penis saya lama kelamaan menjadi lebih gelap. Apa ini karena saya terlalu sering masturbasi?

J. Ini hal yang wajar dan tidak ada hubungannya dengan frekuensi masturbasimu. Seperti Anda ketahui, masturbasi merupakan proses penis untuk mencapai ereksi. Ketika sedang ereksi penuh, kulit di sekitar penis akan merenggang. Jadi mungkin kulit terlihat agak gelap saat kondisi penis sedang tidak ereksi dan kulit penis tidak merenggang.(Kompas,Senin, 23 Juni 2008)

Sunday, November 7, 2010

Soal Ukuran Mr.P, Prancis Paling OK se-Eropa

DALAM hal ukuran alat vital pria,  Prancis boleh membanggakan diri.  Suatu riset menyebutkan, rata-rata pria Prancis memiliki ukuran panjang dan lingkar penis lebih besar dibandingkan negara-nagara Eropa lainnya.

Penelitian yang dilakukan Institut fuer Kondom-Beratung  (Institut Konsultasi Kondom) di Jerman menyebutkan, Prancis mengungguli 24 negara uni Eropa lainnya dalam hal ukuran organ vital pria.

Dalam riset yang melibatkan 10.477 pria dewasa dari 25 negara Eropa ini, terungkap bahwa pria Prancis rata-rata memiliki ukuran  panjang 15,48 cm dengan lingkarnya sekitar 13,63 cm.

Peringkat kedua ditempati para pria Swedia dengan rata-rata panjang 15,48 cm dengan lingkar 13,63 cm, disusul Estonia 15,17 cm dengan lingkar 12,54 cm.

Inggris yang diyakini sebelumnya akan menjadi pesaing Prancis justru mengenaskan. Kaum Adam di negara ini rata-rata memiliki panjang penis sekitar 13,32 cm dengan lingkar 11,32 cm atau menempati peringkat 23 dari 25 negara. 

Sedangkan para pria Italia masih cukup bisa berbangga karena menempati peringkat 5 besar dengan panjang 14,95 cm dengan lingkar 11,95 cm.

Berikut hasil riset selengkapnya :
1. Prancis, panjang :15.48cm, lingkar : 13.63cm
2. Swedia, panjang : 15.36cm, lingkar : 12.78cm
3. Estonia, panjang: 15.17cm, lingkar : 12.54cm
 4. Hongaria, panjang : 14.99cm, lingkar: 11.81cm
5. Italia, panjang: 14.95cm, lingkar: 11.95cm
6. Austria, panjang: 14.89cm, lingkar : 12.10cm
7. Denmark, panjang: 14.88cm, lingkar : 11.75cm
8. Belgia, panjang: 14.77cm, lingkar: 13.19cm
9. Jerman, panjang: 14.61cm, lingkar: 11.80cm
 10. Latvia, panjang: 14.69cm, lingkar: 11.93cm
11. Lithuania, panjang: 14.55, lingkar: 11.27cm
12. Romania, panjang: 14.30cm, lingkar: 12.25cm
 13. Belanda, panjang: 14.28cm, lingkar: 11.35cm
14. Polandia, panjang: 14.21cm, lingkar: 11.62cm
15. Slovakia, panjang: 14.19cm, lingkar : 11.54cm
 16. Czech Republic, panjang: 14.17cm, lingkar : 11.65cm
17. Bulgaria, panjang: 14.09cm, lingkar: 11.69cm
18. Slovenia, panjang: 14.01cm, lingkar: 11.72cm
 19. Portugal, panjang: 13.91cm, lingkar: 10.45cm
20. Luxemburg, panjang: 13.82cm, lingkar: 11.40cm
21. Spanyol, panjang: 13.58cm, lingkar : 10.43cm
 22. Finlandia, panjang: 13.52cm, lingkar : 11.13cm
23. Inggris: panjang 13.32cm, lingkar: 11.32cm
24. Irlandia, panjang: 12.78cm, lingkar : 10.94cm
25. Yunani, panjang: 12.18cm, lingkar : 10.19cm

(Sumber :BILD.de, Kompas,Selasa, 2 Desember 2008)

Waspadai Penis Kecil pada Anak

Sari, ibu dari Putera (6), belakangan bertanya-tanya tentang kenormalan organ vital anaknya. Dia merasa pertumbuhan penis putranya tidak sesuai usianya.

"Saya lihat, kok, berbeda perkembangannya dengan adik laki-lakinya. Terlalu kecil,” ujar perempuan warga Tangerang, Banten, itu beberapa waktu lalu. Dia lantas membawa putranya ke dokter anak di sebuah rumah sakit. Dokter menyarankan pengukuran terlebih dahulu. Tetapi, si kecil terus menolak dan menangis setiap kali alat kelamin hendak diukur sehingga mereka pulang tanpa hasil.

Pada saat anak usia enam tahun, Sari tetap merasa penis putranya tidak bertumbuh. ”Dengan usianya sekarang, tinggi badan 128 cm dan berat 30 kilogram, penis anak saya hanya seruas ibu jari. Skrotum juga tidak bertambah besar,” katanya.

Ketika kembali ke rumah sakit, dokter menyarankan agar Sari melihat perkembangan lebih lanjut lagi. Dokter tersebut, menurut Sari, khawatir adanya efek samping jika terapi dilakukan terlalu cepat.

”Dokter katakan, ’Nanti libido anak meningkat dan perubahan fisik terjadi terlalu cepat,’” katanya. Pulanglah Sari dengan rasa penasaran yang terus bergantung.

Tidak hanya Sari yang resah. Dokter ahli andrologi dan seksologi, Wimpie Pangkahila, belakangan makin sering kedatangan pasien-pasien kecil. Dalam satu bulan, lima hingga enam bocah laki-laki berusia 6-10 tahun dengan kasus penis yang terlalu kecil datang kepadanya. Dalam bahasa kedokteran, kondisi itu disebut mikropenis. Ada yang penisnya hanya sepanjang 1 sentimeter.

”Sepertinya kasus mikropenis semakin sering ditemukan. Tetapi, untuk membuktikan fenomena itu, harus ada penelitian,” ujar Wakil Ketua Umum Perkumpulan Kedokteran Antipenuaan Indonesia (Perkapi) itu.

Wimpie menduga, kasus mikropenis ada kaitannya dengan makanan yang dikonsumsi. Perkembangan penis terkait dengan hormon testosteron yang bertanggung jawab atas karakteristik pria. Dia menduga, produk ternak yang dikonsumsi ada yang mengandung hormon estrogen. Estrogen berperan dalam produksi hormon seks perempuan dan perkembangan ciri kelamin sekunder perempuan.

Ternak bisa saja mendapatkan estrogen lewat pakan ataupun injeksi. Biasanya dengan tujuan agar ternak cepat gemuk. Namun, Wimpie kembali menekankan perlunya penelitian mengenai kaitan produk ternak dengan kasus tersebut.

Zat-zat pengganggu

Spesialis endokrin anak dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Aman B Pulungan, berpendapat, mikropenis lebih disebabkan faktor hormonal sejak anak masih dalam kandungan.

Dalam berbagai studi mengenai kasus tersebut diketahui adanya zat kimia yang mengganggu atau mengubah fungsi endokrin yang disebut endocrine disrupter chemicals (EDC).

Zat pengganggu itu dapat menghambat kerja androgen, terutama mengganggu substansi yang bertanggung jawab dalam pembentukan organ seksual dan perkembangan karakteristik sekunder laki-laki. EDC tersebut, antara lain, adalah sejumlah zat yang terdapat dalam pestisida kimia, misalnya diklorodifeniltrikloroetan (DDT). Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah melarang sejumlah formulasi pestisida karena berbahaya bagi kesehatan secara keseluruhan. DDT termasuk bahan aktif yang dilarang.

Zat pengganggu tersebut, sebagai komponen, dapat berinteraksi dengan estrogen ataupun androgen reseptor serta sebagai antagonis (lawan hormon endogen). Bukti-bukti ilmiah yang ada juga menunjukkan zat pengganggu memodulasi aktivitas atau ekspresi dari enzim steroidegenik. EDC juga berakibat terhadap kelainan dan perkembangan organ seksual. Gangguan itu terjadi sejak dalam kandungan.

Aman mencontohkan, sebuah studi di China pernah mencatat adanya kasus mikropenis pada bayi-bayi yang dilahirkan di suatu wilayah tertentu pada waktu tertentu. Ternyata setelah diteliti, fenomena tersebut terkait dengan kandungan zat kimia (dalam kasus itu pestisida) yang masuk ke dalam tubuh.

Ukuran yang pas

Orangtua dapat khawatir anaknya mikropenis jika penis tampak kecil, kelihatan kulupnya saja, atau penis seperti menyatu dengan kantong zakar sehingga sulit terlihat. Kondisi tersebut ada sejak lahir. ”Untuk ketepatan diagnosis, ukuran penis harus dipastikan dengan teknik pengukuran yang benar,” ujar Aman, yang juga Ketua Unit Kerja Koordinasi Endokrinologi Ikatan Dokter Anak Indonesia.

Dia mencontohkan, panjang penis bayi baru lahir pada kondisi rileks umumnya 3,1-4,7 cm, anak umur 1 tahun 3,9-5,6 cm, dan anak umur 6 tahun 5,2-7 cm. Kekurangan 2,5 cm dari rentang ukuran normal masih tidak perlu dikhawatirkan. Penis yang kurang dari ukuran normal itu disebut penis kecil dan belum perlu terapi hormon. Namun, jika kekurangannya 2,5 cm lebih dari rentang ukuran normal, anak dapat disebut mikropenis sehingga perlu diterapi.

Mikropenis dan kesuburan merupakan hal yang berbeda. Masalah kesuburan lebih terkait dengan testis (zakar). Belum tentu pemilik mikropenis tidak subur.

Hanya saja, seorang anak mikropenis dengan zakar tidak turun sangat berisiko terganggu kesuburannya. Ada kalanya kasus mikropenis diikuti dengan zakar kecil, zakar tidak turun, atau lubang kencing tidak pada tempatnya (hypospadia).

Bisa ditangani

Orangtua tidak perlu panik atau khawatir. Aman mengatakan, kasus mikropenis dapat ditangani. Sebaliknya, jika tidak ditangani, anak berisiko tetap mikropenis. Kelainan sebaiknya dideteksi dan diatasi sedari dini sehingga segera diterapi. Bahkan, terapi dapat dimulai sejak bayi.

”Sebaiknya, terapi jangan melewati usia pubertas atau masa pertumbuhan (14 tahun),” ujar President Elect Asia Pacific Paediatric Endocrine Society tersebut. Penanganan akan sangat sulit dan efek samping harus dinilai hati-hati.

Dalam terapi, spesialis endokrin anak memberikan hormon testosteron dalam dosis disesuaikan dengan kebutuhan anak. Terapi diberikan 4 kali setiap 3-4 minggu dengan total hanya 4 kali suntikan. Efek samping ringan yang dapat muncul, antara lain, adalah sering ereksi. Ada pula efek samping seperti memacu penutupan lempeng tulang (menghambat pertumbuhan) dan memacu pubertas jika dosis berlebihan, walaupun kasus demikian jarang terjadi. Dengan terapi, penis si kecil pun akan bisa tumbuh dengan baik.(Kompas,Kamis, 18 Februari 2010)