Sunday, December 26, 2010

Sedih dan Depresi? Minumlah Teh Hijau

Bila Anda ingin mengunjungi nenek atau orangtua yang sudah lanjut usia, jangan lupa berikan teh hijau sebagai buah tangan. Penelitian menunjukkan, orang lanjut usia yang sering mengonsumsi teh hijau lebih jarang mengalami perasaan sedih dan kesepian.

Dr.Kaijun Niu dari Tohoku University Graduate School of Biomedical Engineering, Jepang, dan timnya menemukan bahwa kakek atau nenek berusia 70 tahun atau lebih yang rutin mengonsumsi empat cangkir lebih jarang mengalami gejala depresi yang kerap dirasakan para lansia akibat kesepian.

Manfaat teh hijau dalam menurunkan kadar masalah-masalah psikologis telah dinyatakan oleh banyak data dan literatur. Namun dalam studi yang dilakukan Kaijun Niu ini, ia hanya memfokuskan kaitan antara minum teh hijau dan gejala depresi pada 1.058 orang lanjut usia.

Kandungan teh hijau, yakni asam amino thenine, dipercaya memiliki efek menenangkan di otak. Hal ini mungkin menjelaskan mengapa para lansia yang rutin minum teh hijau empat cangkir atau lebih setiap harinya lebih jarang mengalami depresi. Sebagai perbandingan, minuman yang populer lain, seperti teh hitam atau teh oolong, atau kopi tidak memiliki manfaat serupa.

Sumber : Reuters ,Kompas,Sabtu, 19 Desember 2009

Seduhan, Bedakan Rasa dan Khasiat Teh

BAGI para penikmat teh ada aturan main dalam menyeduh teh. Mereka percaya, cara menyeduh teh akan mempengaruhi cita rasa dan kenikmatan dari teh tersebut. Begitu pula dengan khasiatnya. Untuk mendapatkan kenikmatan dan khasiat teh sekaligus, ikutilah beberapa tahapannya :

Pertama, gunakan air matang. Air dari sumber mata air ak menghasilkan teh yang lebih nikmat. Hindari menggunakan air, yang baru saja mendidih. Suhu air yang tepat sekitar 80 derajatderajat. Air mendidih akan merusak zat antioksidan pada teh.

Kedua, cucilah daun teh dengan menuangkan air panas secukupnya pada seduhan pertama. Lalu, kocoklah beberapa saat sebelum air teh dibuang. Ini untuk menghilangkan debu yang melekat pada dauh teh. Cara ini juga akan menghasilkan rasa teh yang nikmat.

Ketiga, minumlah segera teh tersebut. Jangan menyimpan teh hingga 24 jam penuh. Soalnya, teh tersebut akan basi dan bisa menyebabkan diare.

Keempat, simpanlah teh dalam wadah tertutup untuk menjaga aromanya.

Sumber : KONTAN, Kompas,Rabu, 15 Oktober 2008

Sejuta Manfaat Sehat Teh Hijau



Teh hijau adalah pilihan untuk hidup lebih sehat. Banyak khasiat sehat yang bisa dipetik dari secangkir teh hijau.

Ocha adalah bahasa Jepang untuk teh hijau. Sehari-hari masyarakat "Negeri Sakura" akrab dengan teh hijau dan mengasupnya sesering kita minum teh hitam. Begitu dalamnya filosofi teh dalam budaya Jepang. Bahkan, mereka punya upacara minum teh.

Reputasi teh hijau jadi mendunia ketika banyak penelitian membuktikan manfaat sehat teh hijau. Banyak penelitian menunjukkan kejadian kanker, penyakit jantung, dan aneka penyakit akibat gaya hidup modern begitu rendah di Jepang. Penyebabnya tentu saja teh yang sehari-hari mereka minum.

Senyawa sehat dalam teh hijau adalah katekin, khususnya yang bernama epigallocatechin gallate atau disingkat EGCG. Katekin ini tergolong dalam kelompok antioksidan yang secara alamiah juga ada di sayur dan buah. Juga ada pada minuman teh dan anggur.

“Kalau minum anggur, kita bisa mabuk. Nah, daripada minum anggur, tentu saja kita pilih teh,” kata Prof Dr Ali Khomsan, guru besar pangan dan gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB).

Kekuatan antioksidan dalam EGCG ini sungguh dahsyat, bisa empat hingga lima kali lebih tinggi dibandingkan dengan vitamin C dan E. Tak heran, teh hijau ampuh untuk menghambat pertumbuhan sel kanker. Antioksidan dalam teh ini sanggup membunuh sel kanker tanpa membahayakan jaringan sehat di sekitarnya. Ini mirip dengan kerja kemoterapi, tetapi tanpa efek samping.

Luruhkan kolesterol
Manfaat lain teh hijau adalah menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL). Efek penurunan kolesterol karena teh hijau sudah diuji pada hewan dan manusia. Zat bernama polifenol dalam teh hijau memblokade penyerapan kolesterol dalam usus dan mendorongnya untuk segera dibuang.

Dalam sebuah penelitian double blind dan random di Vanderbilt University Medical Center, Nashville, Tennessee, AS, 240 orang dewasa diberi ekstrak teh hijau yang diperkaya theaflavin dan plasebo. Setelah 12 pekan, pasien yang menerima ekstrak teh hijau menunjukkan bahwa LDL dan kolesterol total di tubuh mereka turun secara signifikan dibandingkan kelompok yang menerima plasebo.

Seberapa banyak kita boleh minum teh hijau? Prof Ali Khomsan mengajak kita untuk bijaksana. “Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, demikian juga kalau kurang,” ujarnya.

Diseduh pada Suhu 80 Derajat
-    Agar manfaat yang diperoleh tubuh maksimal, sebaiknya teh hijau tidak diseduh dengan air yang terlalu mendidih. Air panas yang digunakan menyeduh teh hijau sebaiknya berkisar antara 80 dan 85 derajat Celsius.
-    Ada berbagai pilihan menikmati teh hijau: ada yang berbentuk bubuk, daun teh, dan kantong teh (tea bag). Teh hijau berbentuk bubuk bisa dinikmati sebagai minuman, bisa juga dicampur es krim atau yoghurt.
-    Makin tinggi kualitas daun, suhu air harus makin rendah. Air mendidih akan merusak daun teh dan menyebabkan rasa jadi pahit.
-    Lebih baik lagi poci atau mug tempat minum teh hijau dihangatkan sebelum digunakan agar teh tidak cepat dingin.

 Sumber :Tabloid Gaya Hidup Sehat , Kompas, Sabtu, 5 Juni 2010

Teh, Sejak Dulu Dipercaya Larutkan Lemak



RITUAL menyeruput teh sudah dikenal sejak 3000 tahun Sebelum Masehi di China, yakni saat pemerintahan kaisar Shen Nung berkuasa. Ritual ini lantas berkembang di Jepang sejak 1192. Alhasil, tak usah heran kalau masyarakat di dua negara tersebut menjadikan acara minum teh sebagai ritual

Awalnya, ritual ini berjalan apa adanya. Warga di China belum tahu persis khasiat teh yang sebenarnya. Mereka hanya yakin kalau teh mampu menetralisir kadar lemak dalam darah, melancarkan air seni, dan menghambat diare.

Adapun masyarakat Jepang meyakini, teh dapat mengembalikan kesegaran tubuh yang hilang saat melakukan meditasi selama berjam jam.

Sejalan dengan perkembangan ilmu pangan, beberapa negara juga ikut juga mengkonsumsi teh. Tak heran konsumsi teh pun terus meningkat.

Masyarakat Inggris misaInya mengonsumsi teh 2,5 kg per kapita setiap tahunnya. Konsumsi warga Irlandia lebih tinggi lagi, yakni mencapal 3,5 kg per kapita. Warga Pakistan dan India masing-masing menghabiskan teh selama setahun sebanyak 1 kg per kapita dan 0,6 kg per kapita. Adapun di Indonesia, tingkat konsumsi teh baru baru 0,2 kg per kapita. (Novrida Manurung)

Sumber : KONTAN , Kompas, Rabu, 15 Oktober 2008

Teh, Si Pengikis Lemak

Di antara berbagai rasa takut yang kerap menghantui hidup, mungkin kegemukan adalah salah satunya. Apalagi, kebiasaan makan kita identik dengan asupan karbohidrat yang tinggi, misalnya saja dari nasi. Tentu, hal ini bisa membuat berat badan jadi melonjak tidak terkendali.

Pilihan makanan tepat bisa membantu memperbaiki pola hidup yang kurang sehat. Sebaiknya, kita mengurangi asupan karbohidrat buruk yang berpotensi menimbulkan berbagai jenis penyakit. Apalagi, karbohidrat yang berlebihan di dalam tubuh pada akhirnya bisa diubah menjadi lemak. Hal inilah yang membuat perut kita jadi membuncit dan lingkar pinggang pun bertambah. Kita jadi beresiko mengalami kegemukan.

Kita bisa menyiasati tingginya asupan karbohidrat dengan mengonsumsi teh hijau. Penelitian terbaru dari American Society of Nutrition mengungkap, tingginya kandungan katekin dalam teh hijau bisa membantu mengikis lemak di tubuh.

Selain itu, studi terakhir yang dimuat dalam The Journal of Nutrition, menemukan bahwa mengonsumsi minuman mengandung teh hijau bisa mempercepat hilangnya lemak berlebih di daerah perut. Tentu saja, hal ini harus dibarengi dengan program olahraga yang teratur.

Sumber :Prevention Indonesia , Kompas, Senin, 24 Agustus 2009

Saturday, December 25, 2010

Teh Bukanlah Terapi Utama Jinakkan Kolesterol

SEMAKIN tinggi kandungan kolesterol yang ada di tubuh, semakin tinggi risiko seseorang terkena penyakit jantung. Tak heran, kolesterol sangat ditakuti banyak orang. Terutama bagi mereka yang memiliki kolesterol jahat atau low density lipoprotein (LDL) jauh lebih tinggi dari kandungan kolesterol baik atau high density lipoprotein (HDL).

Saptawati Bardosono, Dokter Gizi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia bilang, kadar kolesterol total darah yang aman, lebih kecil dari 200 mg/dL, kadar kolesterol LDL kurang dari 130 mg/dL, kadar kolesterol HDL lebih besar dari 40 mg/dL, dan kadar trigliserida darah kurang dari 150 mg/dL. Kalau sudah melebihi patokan ini, artinya kita sudah pada tahapan berbahaya dari ancaman penyakit jantung.

Nah, kalau sudah memasuki tahap berbahaya, orang baru mulai sibuk mencari jalan menurunkan kolesterolnya. Mulai dari rajin chek up ke dokter hingga menggunakan altematif pengobatan lainnya.

Salah satunya, rajin mengkonsumsi teh bakar dan teh rosella. Padahal, khasiat kedua jenis teh tersebut dalam menurunkan kolesterol behim teruji secara ilmiah oleh para ahli atau oleh para dokter.

"Teh itu hanya sebagai suportive theraphy, artinya hanya sebagai terapi pendukung untuk menurunkan kolesterol, bukan terapi utama," kata Dokter Gizi dari Klinik Hang Lekiu, Inayah Budiasti. Terapi utama adalah pola makan yang tepat dan tak mengandung kolesterol. Inayah melanjutkan, pada daun teh terdapat serat yang bisa menurunkan kadar kolesterol. Serat tersebut mengandung senyawa kirnia flavonoid, polifenol, dan katekin yang berperan sebagai antioksidan.

Namun, dalam proses pembuatan teh seringkali menghilangkan atau merusak zat-zat penting dalam teh. Kalau dalam proses pembakaran, serat yang ada pada daun teh tak rusak atau tak bersentuhan langsung dengan api, berarti antioksidannya masih utuh. Antioksidan inilah yang berfungsi mencegah penyumbatan pembuluh darah. "Tapi, proses pembakaran bisa juga menyebabkan pengurangan senyawa katekin," imbuh Dosen Gizi dari IPB Ali Khomsan.

Berbeda dengan proses pembakaran, dalam proses pembuatan teh hijau yang melalui proses fermentasi, maka kandungan katekinnya paling tinggi. Hal ini berlaku untuk semua jenis teh mulai dari teh bakar, teh hijau, dan juga teh rosella. Sepaham dengan Inayah, dokter keluarga dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Muchtaruddin Mansyur menyatakan, untuk menurunkan kolesterol perlu menjaga pola makan dan olahraga yang cukup.

Jika kandungan kolesterol dalam tubuh sudah terlalu tinggi, perlu dibantu obat-obatan dan diikuti dengan pengaturan pola makan, olahraga teratur, berhenti merokok dan menyetop konsumsi alkohol. (Tunggul Joko Pamungkas)

Sumber : KONTAN, Kompas,Rabu, 15 Oktober 2008)

Teh Cegah Plak di Pembuluh Darah



Teh memang sudah sejak lama dikenal berkhasiat untuk menjaga kesehatan.  Menurut penelitian, setidaknya terdapat 450 senyawa dalam teh mulai dari kafein, berbagai jenis antioksidan dan vitamin yang diketahui bermanfaat bagi tubuh.

Telah banyak bukti penelitian yang mengungkapkan betapa kebiasaan meminum teh akan membuat Anda tetap sehat dan bugar.  Salah satunya adalah riset baru di Prancis, yang membuktikan bahwa teh sangat bermanfaat menjaga kesehatan pembuluh darah dan jantung, khususnya bagi para wanita.

Dr Mahmoud Zureik dan koleganya dari Riset Medis Institut Nasional Prancis, Senin (18/2) melaporkan temuan bahwa wanita dewasa yang meminum teh akan memperoleh proteksi dari risiko pembentukan plak dalam pembuluh arteri pada leher, sehingga kecil kemungkinannya mengidap penyakit stroke dan jantung.

Wanita yang mendapat proteksi lebih terhadap pembentukan plak ini adalah mereka yang meminum sekurangnya tiga cangkir teh setiap hari.  Seperti yang dimuat dalam jurrnal Arteriosclerosis, Thrombosis and Vascular Biology,  perlindungan terhadap pembentukan plak tercatat lebih besar pada wanita yang rajin minum teh ketimbang mereka yang minum sedikit saja.

Untuk sampai pada kesimpulan, Zureik dan timnya menganalisis hasil pengukuran plak arteri karotid dengan menggunakan ultrasound pada 2613 pria dan 3984 wanita yang rata-rata berusia 73 tahun.  Peneliti juga melakukan wawancara personal kepada partisipan antara tahun 1999 hingga 2001 untuk mengetahui kebiasaan meminum teh, makanan, sejarah mengidap penyakit.  

Setelah dianalisa, peneliti menemukan adanya plak karotid  pada sekitar 44 persen dari wanita yang tidak meminum teh, sebanyak 42,5 persen yang meminum satu hingga 2 cangkir per hari, dan hanya 33,7 persen yang meminum 3 cangkir atau lebih setiap hari.

Peneliti mencatat, hubungan antara minimnya kasus plak karotid dengan peningkatan konsumsi teh per hari tidak terpengaruh atau terbebas dari sejumlah faktor seperti kebiasaan makan, faktor risiko penyakit vaskuler, usia, wilayah tempat tinggal, dan tingkat pendidikan.  

Satu hal lain yang tak kalah penting adalah hubungan konsumsi teh dengan pembentukan plak di arteri tidak ditemukan pada pria. ¨Tidak ada hubungan antara konsumsi teh dengan pembentukan plak karotid pada pria,¨ ungkapnya.

Dalam riset ini, peneliti tidak mengumpulkan data tentang jenis teh yang dikonsumsi atau pun durasi meminum teh di antara partisipan. Peneliti pun tidak dapat memastikan mengapa hubungan yang muncul hanya terbatas pada wanita dan tidak pada pria,
     
Sumber : health24 , Kompas,Selasa, 19 Februari 2008