Tuesday, January 12, 2010

Hematoma Spinalis

Hematoma Spinalis adalah penimbunan darah di sekitar medula spinalis yang menekan medula spinalis.

PENYEBAB
Penyebabnya bisa berupa:
- Cedera punggung
- Kelainan pembuluh darah (malformasi arteriovenosa)
- Perdarahan pada orang-orang yang mengkonsumsi antikoagulan atau yang memiliki kecenderungan untuk mengalami perdarahan.




GEJALA

Suatu hematoma biasanya menyebabkan nyeri yang timbul secara tiba-tiba, diikuti oleh kelemahan dan hilangnya rasa dibawah daerah medula spinalis yang terkena.
Gejala ini akan berkembang menjadi kelumpuhan total dalam beberapa menit atau jam, tetapi kadang beberapa penderita mengalami penyembuhan spontan.

Kadang darah mengalir ke dalam otak sehingga timbul masalah yang lebih gawat; jika hematoma terletak di puncak medula spinalis dan mengganggu fungsi pernafasan maka kemungkinan akan terjadi koma dan kematian.

DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan MRI, kadang dilakukan pemeriksaan CT scan dan mielogram.

PENGOBATAN
Jika darah segera diangkat maka bisa mencegah cedera yang menetap pada medula spinalis.

Pembedahan dengan teknik khusus (bedah mikro) kadang bisa memperbaiki sutau malformasi arteriovenosa.

Kepada penderita yang mengkonsumsi antikoagulan atau memiliki kelainan perdarahan diberikan obat untuk menghilangkan atau mengurangi kecenderungan terjadinya perdarahan.(medicastore)

Kelainan Akar Saraf Medula Spinalis

Akar saraf keluar dari medula spinalis dan mengantarkan sinyal dan menerima sinyal dari hampir seluruh bagian tubuh.
Akar saraf ini keluar dari medula spinalis melalui kolumna spinalis, melewati lubang diantara tulang belakang dan setiap akar saraf menyediakan informasi atau sensasi (rasa) ke bagian tubuh tertentu.

Setiap akar saraf berpasang-pasangan; dimana akar motorik keluar dari bagian depan medula spinalis dan merangsang otot, sedangkan akar sensorik keluar dari bagian belakang medula spinalis dan membawa informasi rasa ke otak.



PENYEBAB

Penyebab yang paling sering adalah ruptur diskus (pecahnya lempengan) diantara tulang belakang.

Penyebab lainnya adalah:

1. Kolaps tulang belakang yang terjadi karena pengeroposan tulang akibat kanker, osteoporosis atau cedera yang hebat.
2. Artritis degeneratif (osteoartritis) yang menyebabkan terbentuknya penonjolan tulang yang tidak beraturan (taji tulang) yang menekan akar saraf.
3. Stenosis spinalis (penyempitan rongga di sekitar korda spinalis), sering terjadi pada usia lanjut.
4. Tumor atau infeksi medula spinalis (misalnya meningitis atau herpes zoster).


GEJALA
Kerusakan pada tulang belakang atau lempeng diantara tulang belakang bisa menyebabkan penekanan pada akar saraf medula spinalis.
Penekanan ini bisa menyebabkan nyeri, yang seringkali bertambah parah jika penderita menggerakkan punggungnya, batuk, bersin atau mengedan.

Jika akar saraf di punggung bagian bawah tertekan, maka nyeri hanya dirasakan di punggung bagian bawah atau bisa menjalar ke sepanjang saraf pinggul menuju ke bokong, paha, betis dan kaki (nyeri skiatik).

Jika penekanan saraf sangat berat, maka saraf tidak dapat membawa sinyal ke dan dari otot, sehingga terjadi kelemahan dan hilangnya rasa.

Kadang terjadi gangguan fungsi pencernaan dan fungsi berkemih.

Jika mengenai akar saraf di leher, maka nyeri bisa menjalar ke bahu, lengan dan tangan atau ke kepala bagian belakang.

DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik.

Pemeriksaan rontgen bisa menunjukkan adanya penipisan tulang, kerusakan atau perubahan struktur pada kolumna spinalis.

Pemeriksaan CT scan atau MRI akan memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai apa yang terjadi di dalam dan di sekitar medula spinalis.

Jika tidak dapat dilakukan MRI, maka digunakan pemeriksaan mielogram.

Pemeriksaan lainnya yang mungkin diperlukan adalah pengukuran aktivitas listirk di dalam saraf dan otot.

PENGOBATAN
Pengobatan tergantung kepada penyebab dan beratnya penyakit.

Jika penyebabnya adalah kollaps tulang belakang akibat osteoporosis, maka tidak banyak yang bisa dilakukan selain membidai tulang belakang dengan dengan korset yang ketat untuk membatasi pergerakan.

Infeksi diatasi dengan antibiotik, jika terbentuk abses maka nanahnya segera dibuang.

Pembedahan atau terapi penyinaran dilakuan untuk mengangkat tumor.

Untuk membantu meringankan nyeri bisa diberikan obat pereda nyeri.
Obat pengendur otot (muscle relaxant) kadang diberikan, tetapi efektivitasnya belum terbukti dan bisa menimbulkan efek samping terutama pada penderita usia lanjut.(medicastore)

Ruptur Diskus Vertebralis

Vertebra (tulang belakang) dari kolumna spinalis dipisahkan oleh lempengan (diskus) yang terbuat dari tulang rawan (kartilago).
Setiap diskus memiliki lapisan luar yang kokoh dan bagian dalam yang lebih lembut, yang bertindak sebagai peredam goncangan untuk membantali tulang belakang pada saat bergerak.


PENYEBAB

Jika diskus mengalami kemunduran (degenerasi), misalnya karena cedera atau penuaan, maka bagian dalam dari diskus bisa menonjol dan merobek bagian luarnya (herniasi diskus).
Robeknya diskus bagian dalam bisa menekan atau mengiritasi akar saraf dan melukainya.

GEJALA
Lokasi dari ruptur diskus akan menentukan tempat timbulnya nyeri, hilangnya rasa atau kelemahan.
Beratnya penekanan atau kerusakan yang terjadi akan menentukan hebatnya nyeri atau gejala lainnya.

Sebagian besar ruptur diskus terjadi di punggung bagian bawah (lumbal) dan biasanya hanya mengenai satu tungkai.
Nyeri dirasakan tidak hanya di punggung bagian bawah, tetapi juga pada saraf pinggul yang menuju ke bokong, tungkai dan tumir (nyeri skiatik).
Ruptur diskus di punggung bagian bawah juga bisa menyebabkan kelemahan tungkai dan penderita mengalami kesulitan dalam mengangkat kaki bagian depan (footdrop).

Ruptur diskus yang sangat luas dan berpusat pada kolumna spinalis bisa mengenai saraf yang mengatur pencernaan dan kandung kemih, sehingga mengganggu kemampuan dalam buang air besar atau berkemih.

Nyeri akibat ruptur diskus biasanya akan semakin parah jika penderita bergerak dan bisa dipicu oleh batuk, tertawa, berkemih atau mengedan.
Bisa terjadi mati rasa dan kesemutan di tungkai, kaki dan jari-jari kaki.
Gejala-gejalanya bisa terjadi secara mendadak, menghilang dengan sendirinya dan kembali lagi dalam selang waktu tertentu atau bisa terus menerus dirasakan dalam waktu yang lama.

Tempai kedua yang paling sering mengalami ruptur diskus adalah leher (servikal).
Gejala biasanya hanya menyerang satu lengan.
Penderita biasanya merasakan nyeri di tepi bahu dan ketiak atau di ujung bahu yang lebih atas, yang akan menjalar ke lengan dan 1-2 jari tangan.
Otot-otot lengan menjadi lemah dan kadang menyebabkan gangguan pergerakan jari tangan.

DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik.
Selama pemeriksaan fisik dilakukan penilaian terhadap rasa, koordinasi, kekuatan otot dan refleks.

Rontgen tulang belakang bisa menunjukkan adanya penyempitan rongga diskus, yang akan lebih jelas terlihat pada pemeriksaan CT scan dan MRI.

PENGOBATAN
Jika kelainan fungsi sarafnya tidak berat, maka sebagian besar penderita ruptur diskus di punggung bagian bawah akan mengalami penyembuhan tanpa pembedahan.
Rasa tidak nyaman biasanya akan hilang jika penderita melakukan istirahat yang cukup. Kadang penderita harus menjalani tirah baring selama beberapa hari.
Aktivitas yang menyebabkan penekanan pada tulang belakang dan menimbulkan nyeri (misalnya mengangkat benda berat, membungkuk atau mengedan) harus dihindari.

Penderita sebaiknya tidur diatas kasur yang kokoh dan tidak terlalu lembek.
Penyesuaian posisi tidur banyak memberikan keuntungan; jika penderita tidur miring, sebaiknya bantal ditempatkan dibawah pinggang dan dibawah bahu; jika penderita tidur terlentang, sebaiknya bantal ditempatkan dibawah lutut.

Untuk membantu meringankan nyeri biasanya diberikan Aspirin atau obat anti peradangan non-steroid lainnya.

Dianjurkan menjalani latihan untuk mengurangi kejang dan nyeri otot dan untuk mempercepat penyembuhan.
Dalam keadaan normal, kolumna spinalis di leher dan punggung bagian bawah berada dalam posisi melengkung ke depan. Mendatarkan atau bahkan melawan kelengkungan tersebut bisa memberikan rongga yang lebih luas bagi saraf spinalis dan mengurangi tekanan karena ruptur diskus.
Latihan yang dilakukan bisa berupa:
- mendatarkan punggung diatas lantai atau dinding
- berbaring dan menarik kedua lutut secara bergantian ke arah dada
- berbaring dan menarik kedua lutut secara bersamaan ke arah dada
- melakukan sit-up dengan posisi lutut ditekuk.
Latihan tersebut bisa dilakukan sebanyak 2-3 set/hari, setiap set terdiri dari 10 kali gerakan.

Jika gejala neurologisnya semakin memburuk, maka dipertimbangkan untuk menjalani pembedahan:
- terjadi kelemahan dan hilangnya rasa
- nyeri yang hebat dan menetap
- gangguan fungsi pencernaan dan kandung kemih.
Diskus yang ruptur diangkat melalui teknik bedah mikro.

Jika ruptur diskus terjadi pada tulang leher, maka dilakukan traksi dan pemasangan collar neck.
Pada traksi dilakukan penarikan kolumna spinalis untuk menambah rongga diantara tulang belakang dan mengurangi tekanan.
Biasanya tindakan diatas bisa mengatasi gejala yang terjadi. Tetap jika nyeri dan gejala kerusakan sarafnya semakin hebat, mungkin perlu dilakukan pembedahan. (medicastore)

Hereditary Spastic Paraparesis (HSP)

Hereditary Spastic Paraparesis (HSP)adalah gangguan menurun yang langka yang menyebabkan kelemahan bertahap dengan kejang otot (kelemahan kejang) pada kaki.


PENYEBAB


Hereditary Spastic Paraparesis (HSP) (berhubungan dengan keluarga) mempengaruhi kedua jenis kelamin dan bisa diawali pada usia berapapun. Itu mempengaruhi sekitar 3 dari 100.000 orang. Biasanya, gen untuk gangguan ini adalah dominan. Namun demikian, anak-anak dari orang tua dengangangguan ini memiliki 50% kemungkinan untuk mengalami gangguan ini. Gangguan ini memiliki beberapa bentuk. Semua bentuk menyebabkan kemerosotan pada aliran syaraf yang membawa sinyal dari otak turun ke tulang belakang (menuju otot). Lebih dari satu daerah pada tulang belakang kemungkinan terkena.

GEJALA

Gejala-gejala Hereditary Spastic Paraparesis (HSP) bisa bermula pada usia berapapun-dari usia 1 tahun sampai usia tua-tergantung pada bentuknya.

Refleks menjadi berlebihan, dan kram kaki, gugp, dan terjadi kejang, membuat gerakan kaki menjadi kaku dan menyentak (disebut kejang gaya berjalan). Berjalan secara bertahap menjadi lebih sulit. Orang bisa tersandung atau tergelincir karena mereka cenderung untuk berjalan berjingkat dengan kaki memutar ke dalam. Sepatu seringkali dikenakan turun ke daerah lebih dari jempol kaki. Kelelahan sering terjadi. Pada beberapa orang, otot pada lengan menjadi lemah dan kaku.

Biasanya, gejala-gejala berlanjut untuk gerakan lambat yang memburuk, tetapi kadangkala tingkatnya berhenti setelah remaja. tidak mempengaruhi jangka waktu hidup.

Sekitar 10% orang dengan gangguan Hereditary Spastic Paraparesis (HSP) mengalami kelainan lain disebabkan oleh kerusakan pada otak, tulang belakang, atau syaraf. Misalnya, mereka mengalami masalah mata, kekurangan kendali otot, kehilangan pendengaran, penurunan mental, demensia, dan gangguan syaraf peripheral.

DIAGNOSA

Gangguan Hereditary Spastic Paraparesis (HSP) didiagnosa oleh gangguan-gangguan lain yang tidak termasuk menyebabkan gejala serupa (seperti multiple sclerosis dan tekanan tulang belakang) dan dengan memastikan apakah anggota keluarga lain mengalami Hereditary Spastic Paraparesis (HSP). Pemeriksaan darah (tes genetik) kadangkala dilakukan untuk memeriksa genetic yang menyebabkan gangguan tersebut.

PENGOBATAN

Pengobatan Hereditary Spastic Paraparesis (HSP) difokuskan pada menghilangkan gejala-gejala. Terapi fisik dan olah raga bisa membantu menjaga gerakan dan kekuatan otot, memperbaiki cakupan pada gerakan dan daya tahan, dan mencegah kram dan kejang.

Baclofen adalah obat yang dipilih untuk mengurangi kekejangan. Pilihan lain, botulinum toxin, clonazepam, dantrolene, diazepam, atau tizanidine kemungkinan digunakan. Beberapa orang mendapat manfaat dari penggunaan bidai, tongkat, atau penopang. Beberapa orang memerlukan kursi roda.(medicastore)

Syrinx : Rongga Berisi Cairan Pada Tulang Belakang

Syrinx adalah rongga berisi cairan yang terbentuk pada tulang belakang (disebut syringomyelia), pada tangkai otak (disebut syringobulbia), atau pada keduanya.

Syrinx adalah langka. Pada sekitar separuh orang yang mengalami syrinx, hal ini terjadi ketika lahir, dan kemudian untuk alasan yang kurang dipahami, hal ini melebar selama usia remaja atau dewasa muda. Seringkali, anak yang mengalami syrinx juga mengalami kelainan struktur lain pada otak, tulang belakang, atau simpangan antara tengkorak dan tulang belakang. Biasanya, syrinx yang terbentuk kemudian di dalam kehidupan menyebabkan tumor atau luka. Sekitar 30% tumor yang berasal pada tulang belakang menghasilkan syrinx.


Syrinx yang berkembang pada tali tulang belakang menekan dari dalam. Mereka cenderung terlebih dulu mempengaruhi serat syaraf yang melancarkan informasi tentang rasa sakit dan suhu dari badan ke otak. Nanti, mereka mempengaruhi serat yang melancarkan tanda dari otak untuk merangsang gerak-gerik otot. Syrinxes bisa terjadi di mana pun sepanjang panjang tali tulang belakang. Tetapi mereka sering mulai di leher dan mungkin memanjang menurun untuk mempengaruhi tali seluruh. Syrinxes yang terulur ke dalam atau mulai di bagian lebih rendah tangkai otak mungkin memadatkan saluran tali tulang belakang dan syaraf tengkorak (yang mengatur secara langsung dari otak bagian kepala dan leher lain).


GEJALA

Gejala biasanya mulai dengan tak kentara antara masa remaja dan sekitar 45 tahun.

Syrinx pada leher seringkali membuat orang agak sensitif terhadap rada sakit dan suhu, terutama sekali pada bahu, punggung atas, leher bagian bawah, dan tangan. Dengan demikian, terpotong atau terbakar pada bahu dan tangan adalah biasa. Orang bisa tidak mengenali penurunan sensitifitas ini untuk beberapa tahun. Syrinx meluas dan memanjang. Bisa menyebabkan kelelahan dan atrophy, biasanya diawali pada tangan dan kemudian menyebabkan kelelahan dan kejang pada kaki. Gejala kemungkinan bisa lebih berat pada salah satu sisi tubuh.

Syrinx pada tangkai otak bisa menyebabkan vertigo, nystagmus (gerakan cepat pada mata pada satu perintah diikuti dengan gerakan lambat menyimpang ke posisi semula), kehilangan perasa pada wajah (pada salah satu atau kedua sisi), kehilangan perasa, kesulitan berbicara, parau, kesulitan menelan, dan lemas dan lunglai (atrofi) pada lidah.

DIAGNOSA

Dokter bisa menduga syrinx pada anak muda atau remaja yang memiliki gejala khas. Magnetic resonance imaging (MRI) dengan paramagnetic contrast agent, seperti gadolinium, bisa menguraikan syrinx (dan tumor jika ada).

PENGOBATAN

Ahli bedah syaraf mungkin membuat lubang di syrinx untuk mengalirkannya dan mencegahnya memuai, tetapi pembedahan selalu tidak memperbaiki masalah.

Sekalipun menjadi rata syrinx dialirkan, susunan syaraf mungkin sudah dicederai dengan tak dapat diubah lagi. Gejala mungkin tidak dikurangi, atau syrinx mungkin berulang.

Gangguan yang menyebabkan untuk atau disebabkan syrinx (seperti kelainan struktur atau tumor tulang belakang) diperbaiki ketika memungkinkan.(medicastore)

Tropical Spastic Paraparesis/HTLV-1 yang Berhubungan dengan Myelopathy

Tropical spastic paraparesis/HTLV-1-yang berhubungan dengan myelopathy adalah gangguan pada tali tulang belakang yang perkembangannya lambat disebabkan oleh virus manusia T-lymphotrophic 1/ human T-lymphotrophic virus1 (HTLV-1). Yang menyebabkan kelemahan disertai kejang otot (kelemahan disertai kekejangan) pada kedua kaki.


PENYEBAB


Virus manusia T-lymphotrophic 1/ human T-lymphotrophic virus1 (HTLV-1) virus yang serupa dengan virus yang menyebabkan AIDS, virus human immunodeficiency virus (HIV). Virus HTLV-1 bisa menyebabkan jenis leukemia dan lymphoma tertentu (kanker pada sel darah putih). Virus ini ditularkan melalui hubungan seksual, menggunakan obat-obatan illicit melalui infus, atau kontak dengan darah. Yang bisa ditularkan dari ibu kepada anak melalui menyusui. Hal ini paling sering terjadi pada pelacur, pengguna obat IV, orang yang mengalami hemodialisa dan orang dari daerah tertentu seperti mereka yang di dekat khatulistiwa, Jjepang selatan, dan bagian Afrika Selatan. Gangguan serupa bisa diakibatkan dari infeksi dengan virus serupa, virus lymphotrophic-T 2 manusia.

Virus terdapat di dalam sel darah putih. Karena cairan tulang belakang mengandung sel darah putih, tali tulang belakang bisa rusak. Kerusakan pada tali tulang belakang lebih diakibatkan dari reaksi tubuh terhadap virus dibandingkan dari virus itu sendiri.

GEJALA

Otot pada kedua kaki berangsur-angsur menjadi lemah. Orang tidak bisa merasakan getaran dan bisa kehilangan rasa dimana kaki dan jari kaki mereka (rasa letak). Anggota badan mereka terasa kaku, gerakan menjadi kaku, dan berjalan menjadi sulit. Otot kejang pada kaki adalah sering terjadi, sama dengan tidak berkemih. Gangguan biasanya berkembang setelah beberapa tahun.

DIAGNOSA

Diagnosa tersebut biasanya didasarkan pada gejala-gejala dan resiko orang tersebut mengarah pada virus tersebut. Dengan demikian, seorang dokter bisa menanyakan orang mengenai hubungan seksual mereka dan penggunaan obat-obatan illicit melalui infus. Magnetic resonance imaging (MRI) pada tali tulang belakang dilakukan. Contoh darah dan cairan tulang belakang, diperoleh dengan ketukan tulang belakang (tusuk pinggang), diuji untuk bagian dari virus atau antibodi terhadap virus.

PENGOBATAN

Interferon-alpha, immune globulin (diberikan melalui infus), dan kortikosteroid (seperti methyprednisone, diberikan melalui mulut) bisa membantu, meskipun kegunaan mereka belum ditetapkan. Kejang bisa diobati dengan perelaksasi otot seperti baclofen atau tizanidine. (medicastore)

Degenerasi Kombinasi Subakut : Membuat Lemah Tubuh

Degenerasi Kombinasi Subakut Subacute Combined Degeneration

Gangguan Degenerasi Kombinasi Subakut mengenai sekitar 1 dari 10.000 orang, biasanya mereka yang berusia lebih tua dari 40 tahun. Hal ini disebabkan kekurangan vitamin B12, yang biasanya juga menyebabkan anemia pernicious. Biasanya, kekurangan tersebut tidak berhubungan dengan makanan tetapi dengan ketidakmampuan tubuh untuk menyerap vitamin B12.

Vitamin B12 diperlukan untuk pembentukan dan perawatan lapisan lemak (lapisan myelin) yang mengelilingi beberapa sel syaraf dan yang mempercepat pergantian sinyal syaraf. Pada subacute combined degeneration, lapisan tersebut adalah rusak, menyebabkan sensor dan penggerak serat syaraf dari tali tulang belakang mengalami kemunduran. Otak, syaraf pada mata, dan syaraf di sekitarnya kadangkala juga rusak.


GEJALA


Gangguan Degenerasi Kombinasi Subakut dimulai dengan suatu perasaan lemah secara keseluruhan. Perasaan geli, rasa seperti ditusuk jarum, dan kedua kaki dan tangan terasa kebas. Rasa ini cenderung tetap dan berangsung-angsur memburuk. Orang tidak bisa merasakan getaran dan tidak bisa merasakan anggota badan (position sense). Anggota badan terasa kaku, gerakan menjadi kaku, dan berjalan menjadi sulit. Refleks kemungkinan menurun, meningkat, atau tidak ada. Penglihatan kemungkinan berkurang.

Orang yang mengalami gangguan Degenerasi Kombinasi Subakut bisa menjadi gampang marah, apatis, mengantuk, curiga, dan pusing. Emosi mereka bisa berubah dengan cepat dan tidak terduga. Jarang, demensia terbentuk.

DIAGNOSA

Pemeriksaan darah untuk mengukur kadar Vitamin B12 bisa memastikan kekurangan tersebut.

PENGOBATAN

Kesembuhan lebih mungkin jika gangguan Degenerasi Kombinasi Subakutt segera diobati. Ketika pengobatan dalam beberapa minggu setelah gejala-gejala muncul, kebanyakan orang sembuh dengan sempurna. Jika pengobatan ditunda, kemajuan gejala-gejala kemungkinan menjadi lambat atau berhenti, tetapi kesembuhan penuh pada fungsi yang hilang kurang mungkin terjadi.

Kebanyakan orang segera diberikan suntikan vitamin B12, yang dilanjutkan hingga tidak terbatas untuk mencegah gejala-gejala berulang. Dosis besar pada vitamin B12 digunakan melalui mulut bisa digunakan jika kekurangan adalah ringan dan gejala-gejala pada kerusakan otak tidak terbentuk.(medicastore)