Tuesday, April 1, 2008

Gangguan siklus haid

Waspadai Gangguan Siklus Haid

Gangguan siklus haid yang sangat pendek atau lebih panjang harus diwaspadai. Apalagi, jika disertai rasa tertekan pada kandung kemih, dubur, maupun organ lain dalam rongga perut. Bisa jadi hal itu merupakan gejala kanker ovarium. Demikian dikemukakan dr. Nasdaldy, SpOG, Onk. dalam ceramah umum tentang kanker ovarium di Rumah Sakit Kanker Dharmais (RSKD) Jakarta, baru-baru ini.

Menurut Nasdaldy, selain sel telur, ovarium juga memproduksi hormon reproduksi, seperti estrogen dan progesteron. Jika sel-sel ovarium terganggu, yang paling mudah dirasa adalah haid tak teratur.

Kanker ovarium sebagian besar berbentuk kista berisi cairan maupun padat. Sebelum tampak pembesaran perut, kista menekan organ-organ di daerah perut. "Jika menekan kandung kemih, daya tampung kandung kemih berkurang sehingga orang cenderung kencing (beser). Jika menekan dubur, penderita akan sembelit. Kista juga bisa menekan panggul, pembuluh darah dan saraf, menyebabkan perut bagian bawah tegang dan nyeri, terutama saat senggama," kata Nasdaldy.

Berbeda dengan kanker leher rahim yang mudah dideteksi dengan Pap-smear, kanker ovarium boleh dikatakan silent killer alias pembunuh diam-diam. Pasalnya, ovarium terletak di bagian dalam sehingga tak mudah dideteksi. Sejauh ini belum ada metode deteksi dini yang memuaskan. Akibatnya, 70--80 persen kanker ovarium baru ditemukan pada stadium lanjut dan menyebar (metastesis).

Hampir 50 persen kematian kanker ginekologi disebabkan kanker ovarium. Padahal, angka kejadian hanya 25 persen kanker leher rahim. Menurut data RSKD, kanker ovarium hanya 30--50 kasus per tahun, sedangkan kanker leher rahim sekitar 200 kasus.

Tumor ganas ovarium memang bisa dideteksi lewat petanda (marker) tumor Ca-125. Tetapi, tidak semua sel tumor ganas ovarium memproduksi Ca-125.

Deteksi bisa juga dilakukan dengan ultrasonografi (USG) transvaginal. Meskipun lebih sensitif dibandingkan USG biasa, tetap belum bisa mendeteksi penyebaran sel tumor. "Sering kanker ovarium yang disangka stadium dini, setelah dibedah baru ketahuan menyebar," kata Nasdaldy. Oleh karena itu, pada pemeriksaan rutin Pap-smear,dokter atau bidan selalu melakukan pemeriksaan dalam untuk melihat ada tidaknya benjolan/kista. Jika terasa benjolan, pasien dianjurkan melakukan USG transvaginal untuk memastikannya. Pemeriksaan penunjang lain adalah dengan CT-Scan, MRI, maupun pemeriksaan laboratorium.

Penyebab pasti kanker ovarium belum diketahui. Namun, ada beberapa faktor risiko, antara lain tidak menikah, tidak punya atau sedikit anak, kebiasaan menggunakan talk/bedak tabur di daerah vagina, haid dini, menopause terlambat, terkena radiasi, serta faktor genetik. Sedangkan yang menurunkan risiko adalah pernah hamil dan memunyai anak, menggunakan pil kontrasepsi dan sterilisasi.

Umumnya penderita berusia 40 tahun ke atas, tetapi tidak tertutup kemungkinan anak/remaja bisa terkena, biasanya karena faktor genetik. Partikel bedak tabur, kata Nasdaldy, dari vagina bisa naik ke ovarium dan menempel saat pelepasan sel telur. Karena bersifat karsinogenik (memicu kanker), bedak tabur mendorong sel ovarium membelah tak terkendali.

Pada stadium sangat dini (IA) dan jenis sel tidak terlalu ganas, tindakannya hanyalah operasi, kemudian diikuti perkembangannya. Pada stadium lebih dari IA, karena risiko kambuh lebih besar, operasi dilanjutkan dengan kemoterapi. Radiasi tidak digunakan karena lokasi penyebaran sel kanker terlalu luas. Apalagi, organ di rongga perut, seperti hati dan ginjal, tidak mampu menahan radiasi dosis tinggi. Salah satu penyebab tingginya angka kematian adalah penanganan tidak memadai dari dokter sebelumnya. Yaitu, operasi mempertimbangkan segi kosmetik, tanpa memastikan tumor jinak atau ganas. Agar luka operasi sekecil mungkin, kista hanya dipecah, disedot cairannya, kemudian ditarik kulitnya. "Tindakan mencoblos kista meningkatkan stadium kanker karena sel berserakan dan menyebar ke mana-mana," ujarnya.
Kista Kambuhan

Sementara Onkologi dari Subbagian Onkologi Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) Jakarta dr. Sigid Pribudi, SpOG mengatakan kista endometriosis sebenarnya salah satu jenis kista yang tidak ganas dan bukan merupakan tumor sejati. Tetapi, kista ini menyebalkan karena kerap kambuh dan dapat mengganggu kesuburan perempuan. "Dalam kasus infertilitas, 10--15 persen disebabkan kista kambuhan itu," katanya.

Kista endometriosis dapat timbul di indung telur, saluran telur, atau badan rahim. Menurut Sigid, meskipun belum diketahui persis faktor penyebab kekambuhan, dicurigai pengobatan yang tidak tuntas setelah operasi pengambilan kista jadi pemicunya.

Pengobatan yang seharusnya menyertai operasi adalah suntikan hormon Gn-RH analog yang diberikan enam bulan, bukan tiga bulan seperti yang kerap dilakukan. "Kini, ada obat oral baru yang dapat diberikan selama enam bulan, yaitu Antiestrogen Anastrozol," kata Sigid.

Ia mengungkapkan cara kerja Gn-RH adalah menekan hormon di otak yang memberi perintah kepada indung telur untuk berproduksi. Akibatnya, pasien (yang masih produktif) seperti dalam keadaan menopause. Namun, bagi yang menginginkan anak tidak perlu khawatir karena pengobatan itu hanya sementara (6 bulan).

Sebelumnya, angka kekambuhan kista endometriosis cukup tinggi yaitu sedikitnya 50 persen, bahkan sebelum sampai setahun setelah kista diambil. Dengan pengobatan intensif seperti suntikan dan oral, angka kekambuhan bisa ditekan 10--15 persen.

Jika endometriosis menyerang indung telur cukup parah, indung telur terpaksa diambil. Namun, jika masih kecil, kurang dari 5 centimeter, tindakan medis bisa dengan mengambil kistanya saja atau dibakar (kauterisasi). Jika hanya satu indung telur yang diserang, potensi bisa hamil masih ada.

Ia menjelaskan penyebab kista endometriosis masih terus diteliti ahli. Teori lama mengatakan darah menstruasi masuk kembali ke saluran telur (tuba falopii) dengan membawa jaringan (endometrium) dari lapisan dinding rahim, sehingga jaringan tersebut menetap dan tumbuh di luar rahim. Kista endometriosis kerap disebut kista cokelat sebab berisi darah kecokelatan dan sel-sel endometrium.

Meskipun bukan kista ganas, endometriosis perlu diwaspadai karena 26 persen dari kasus kista endometriosis dapat berlanjut menjadi kanker. Sayang, penyebabnya belum diketahui pasti. "Oleh karena itu, sekarang ini ada semacam wacana baru, apakah benar kista endometriosis ini bukan semacam tumor? Hal itu masih menjadi studi ahli," kata dr Sigid. Salah satu penyebab kista endometriosis adalah mutasi genetik. Penyebab yang paling dicurigai adalah polutan, salah satunya asbes. Sebab itu, banyak kasus kista tersebut ditemui pada negara-negara industri. Bahkan, ada studi yang menemukan kasus ini kerap muncul pada perempuan karier di negara industri. "Dunia sudah semakin terpolusi, manusia semakin mengabaikan lingkungannya. Akibatnya, dirinya sendiri yang terkena dampaknya," kata Sigid.

Perempuan yang berisiko cukup tinggi terhadap kista endometriosis adalah perempuan yang dalam keluarganya beriwayat kanker indung telur dan kanker payudara.

Upaya preventif yang dapat dilakukan adalah memeriksakan diri secara teratur ke dokter. Deteksi dini sangat membantu mengurangi keberlanjutan kista endometriosis menjadi lebih parah.
.
sumber : lampungpost, 8/03/2005

Kista & kesuburan

Tidak Semua Kista Ganggu Kesuburan Wanita

Masalah kesuburan pada perempuan sering dikaitkan dengan kista. Bahkan, ada anggapan seseorang yang terkena kista di ovarium (indung telur) akan sulit hamil.

Pendapat itu ternyata tidak sepenuhnya benar karena pada umumnya kista bersifat jinak, berukuran kecil, dan tidak berpengaruh terhadap kesuburan. Tetapi, kista bisa berbahaya manakala sudah berukuran besar.

"Kista merupakan neoplasma atau pertumbuhan sel baru yang liar. Kista bisa dikatakan berisiko jika neoplasmanya ganas dan bisa mengakibatkan kanker ovarium," kata spesialis kebidanan dan kandungan dr Indra Anwar kepada Media di Jakarta beberapa waktu lalu.

Menurut Indra, seseorang bisa saja hamil dengan kista. Lagi pula ovarium seorang perempuan ada sepasang. Jika salah satunya terganggu dan tidak berfungsi, masih ada satu lagi sehingga kehamilan masih dapat terjadi.

"Jadi, kista berukuran besar dapat mengganggu kehamilan, bukan kesuburannya," kata dokter dari Rumah Sakit Bunda Jakarta ini lagi.

Lebih lanjut, Indra menjelaskan kista yang memiliki diameter lebih dari 5 cm dapat melintir pada saat terjadi kehamilan. Akibatnya, kista pecah dan menimbulkan nyeri sangat hebat.
Bila hal itu terjadi, lanjutnya, dapat menjadi nekrotik dan bisa mengakibatkan emboli hingga kematian. Itulah sebabnya kista berukuran besar harus diangkat agar tidak mengganggu dan dapat didiagnosis secara petologi. Dengan diagnosis dapat diketahui apakah kista itu jinak atau ganas.

Jenis kista

Indra menjelaskan, kista berupa selaput. Ada yang berisi cairan kental, dan bukan kental, yaitu dermoid. Kista dermoid berasal dari elemen ektodermal sehingga sel-selnya mirip kulit, yaitu sel epitel gepeng, tampak pula folikel rambut, kelenjar keringat, kadang-kadang elemen tulang. Potensi kista dermoid menjadi ganas relatif kecil, cuma sekitar 1-3%.

Namun, lanjutnya, penyakit yang mengganggu kesuburan dan sering disalahartikan sebagai kista adalah endometriosis. Endometriosis memang ada yang berbentuk kista, karena itu sering disebut kista. Padahal, kista merupakan neoplasma, sementara endometriosis berupa kelenjar dinding rahim yang abnormal dan tumbuh di luar rahim.

"Umumnya endometriosis memengaruhi kesuburan seorang wanita dan dapat berbentuk kista di indung telur," tutur Indra.

Kista endometriosis mengganggu kesuburan karena secara mekanik dapat mengakibatkan perlengketan-perlengketan. Adanya perlengketan menyebabkan proses ovum pick-up (lepasnya sel telur yang telah matang), sehingga sulit ditangkap fimbriea (ujung tuba fallopi). Akibatnya, pembuahan sulit terjadi.

Selain itu, kata Indra, adanya kista endometriosis. Secara imunologis kesuburan juga terhambat, karena timbulnya reaksi-reaksi kekebalan mengganggu fungsi sel telur, sperma, dan embrio secara alami.

''Jika dibiarkan, endometriosis akan semakin berat dan umumnya perempuan susah hamil. Dari survei, 40% perempuan yang sulit hamil diketahui memiliki endometriosis pada rahimnya.''
Untuk itu, lanjutnya, diperlukan operasi dengan cara laparoskopi. Setelah dilakukan operasi, 70% perempuan dengan endometriosis ringan (stadium 1 dan 2) dapat kembali hamil secara normal. Sebaliknya endometriosis berat (stadium 3 dan 4) akan sulit untuk hamil secara alami meskipun telah diobati, kecuali dengan cara inseminasi buatan atau bayi tabung.

Meskipun kista tidak mengganggu kesuburan, Indra menganjurkan untuk selalu melakukan deteksi dini berupa pemeriksaan ultrasonografi (USG). Karena, ada kemungkinan kista tersebut neoplasma ganas dan bisa mengakibatkan kanker ovarium. Seperti diketahui, kanker ovarium merupakan kanker nomor tiga penyebab kematian perempuan Indonesia setelah kanker payudara dan kanker mulut rahim.

"Jika terjadi kanker ovarium, ada kemungkinan organ reproduksi seperti indung telur atau rahim harus dibuang sehingga tidak dapat terjadi kehamilan," ujar Indra.

Ketika ditanya apakah kista mengganggu hubungan seksual suami istri, Indra mengatakan kista di ovarium dan vagina tidak mengganggu. Sedangkan yang terletak di luar atau di vulva, bisa mengganggu. Apalagi jika sudah terjadi peradangan, dapat mengakibatkan nyeri.
Tetapi kista endometriosis, kata Indra lagi, dapat mengganggu kehidupan seksual karena akan timbul rasa nyeri pada saat melakukan hubungan seksual.

sumber: Media Indonesia Online, Rabu, 24 Agustus 2005

Daftar Artikel Seputar Kegemukan

1

"Carbohydrate Blocker", Cara Lain Mengatasi Kegemu...

2

"Fast Food": Harus Dikonsumsi Terencana..!

3

"Golden Period" Serangan Jantung Enam Jam

4

15 Jenis Makanan yang Bikin Gemuk

5

30 Hari Melahap McDonald’s ...

6

Akhirnya, Tanpa Diet Kegemukan Pun Teratasi

7

Anak Gemuk

8

Anak Gemuk berisiko penyakit jantung

9

Anak Gemuk dan Ngorok, Waspada Gangguan Pernafasan...

10

Anak Gemuk, Awas Penyakit Liver!

11

Anak Kegemukan, Mungkin Anda Penyebabnya

12

Anak Pengidap Obesitas Tak Sehat Pembuluh Darahnya...

13

Ancaman Disfungsi Seksual Buat Si Berat

14

Anda Gemuk? Kalau Malam Tidur Sajalah ...

15

Apakah Gen Gemuk Itu Ada?

16

Awas, Gula Buah Picu Kegemukan

17

Bagaimana Menghindari Kegemukan?

18

Bahaya Kegemukan Mengancam Siapa Saja

19

Bahaya Mengintip dari Pola Makan Tak Seimbang!

20

Batasi Garam Bikin Anak Langsing

21

Beberapa Makanan yang Cepat Bikin Gemuk

22

Bingung Cara Turunkan Berat Badan

23

BIR Bikin Perut BUNCIT? Ah, Kata Siapa…!

24

Buat Apa Mempertahankan Kegemukan?

25

Cara Aman Kuruskan Badan

26

Cara Aman Menurunkan Bobot Tubuh

27

Cara Aman Menurunkan Bobot Tubuh

28

Cara Ukur Lingkar Pinggang

29

Cegah Obesitas dengan Gaya Hidup Sehat

30

Dari Tonga Sampai Jakarta, Manusia Semakin Gemuk d...

31

Delapan KIAT Hindari Kegemukan!

32

Di Manakah Negara "Tergemuk"?

33

Diabetes Mengancam Anak-Anak

34

Ditemukan Molekul Pengatur Rasa Lapar

35

Ditemukan Virus Penyebab Kegemukan

36

Efek Negatif di Balik Manisnya Permen

37

Fakta Penting tentang Ngemil

38

Gemuk Karena FRUSTRASI..!

39

Gemuk karena Ketularan Teman?

40

Gemuk Mengundang Penyakit

41

Gemuk Merupakan "Gudang" Penyakit

42

Gemuk rawan penyakit GERD

43

Gemuk tapi Sehat

44

Gemuk, Hamil Lebih Berisiko

45

Hati-Hati Membasmi Si Gemuk!

46

Hati-hati, MSG Bikin Gemuk!

47

Hindari Rokok dan Kegemukan Saat Hamil

48

Hiperlipidemia pada Anak

49

Hubungan Sarapan dan Obesitas

50

Ibu Hamil Berbadan Subur, Nyawa Janin Terancam

51

Ibu Stres, Anak Tumbuh Kegemukan?

52

Ilmuwan China Buktikan Teh Dapat Perangi Kegemukan...

53

Jadi Langsing Tanpa Pusing!

54

Jangan Bangga Bila Perut Membuncit

55

Jangan Gemuk, Dong, Yang..

56

Jangan Remehkan Kolesterol

57

Kanker Payudara Ancaman Perempuan Gemuk

58

Kapan Perlu Mewaspadai Anak Kegemukan?

59

Kecilkan Perut Demi Kesehatan..!

60

Kegemukan Berisiko Rematik

61

Kegemukan Bikin Bengkak Kelamin Anak!

62

Kegemukan dan Risiko Kanker

63

Kegemukan Lebih Menakutkan Dibanding Selingkuh?

64

Kegemukan Mempercepat Proses Penuaan

65

Kegemukan Tak Identik dengan Menggemaskan

66

Kegemukan Timbulkan Disfungsi Seksual?

67

Kegemukan Tingkatkan Resiko Kanker

68

Kegemukan, Seks Terganggu

69

Kembali Langsing Setelah Melahirkan

70

Konsumsi Obat Pelangsing..!

71

Kurang Tidur Bisa Bikin Gemuk

72

Kurang Tidur Menyebabkan Kegemukan

73

Langsing Sehat Berkat Puasa

74

Langsing Tanpa Lapar Ala Jepang

75

Lingkar Pinggang, Barometer Kesehatan Anda

76

Makin Gemuk, Nafas Makin Bau

77

Mau Langsing? Tak Perlu Pusing

78

Memprediksi Bentuk Tubuh Berdasarkan Gen

79

Mengapa Anak Tidak Boleh Gemuk?

80

Mengapa Berat Badan Sulit Dipertahankan?

81

Obat Pelangsing Bikin Ketagihan..!

82

Obesitas ancam nak-anak di Erofa

83

Obesitas Berisiko Kanker

84

Obesitas Bisa Diprediksi Lewat Tes Darah

85

Obesitas Lebih Berbahaya dari Terorisme

86

Obesitas Memperburuk Asma

87

Obesitas Mengancam Anak-anak

88

Obesitas pada Perempuan Menopause

89

Obesitas Pelajar Tinggi, Fast Food Dilarang di Kor...

90

Olahraga 10 Menit Bantu Pengidap Obesitas

91

Orang Gemuk Kemungkinan Lebih Cepat Menua

92

Orangtua Baru Resah Ketika Penis Anaknya Kecil

93

Pangan Pengekang Nafsu Makan

94

Pasutri yang Gemuk Sulit Dapatkan Keturunan

95

Pembunuh Nomor Satu Itu Mengincar Wanita

96

Penderita Diabetes Saat Hamil Cenderung Lahirkan B...

97

Peneliti Temukan Gen yang Membuat Anda Makan Terla...

98

Peranan Mineral untuk Menurunkan Kolesterol

99

Perempuan, Berhati-hatilah…

100

Perut Buncit Bikin Pikun?

101

Perut Buncit dan Risiko Pikun

102

Pra Remaja, Usia Rawan Kegemukan

103

Rahasia Anak Langsing? Cukup Sedikit Berlari

104

Rampingkan Pinggang Agar Mr. P Tetap Joss

105

Resiko Pengerasan Arteri pada Wanita Kegemukan

106

Sehatnya Bayar, Rampingnya Gratis...

107

Sel Lemak Pada Orang Kegemukan Kelihatan Sakit

108

Selamat Tinggal Kegemukan

109

Si Gemuk Rentan Kanker Payudara

110

Si GENDUT vs Gangguan Seksual!

111

Sindrom Metabolik : Waspadai Kegemukan

112

Studi : Kurang Gizi Sebelum Lahir Picu Kegemukan

113

Sudah Olahraga, Tetap Jantungan?

114

Tak Ada Kata Tak Mungkin untuk Turunkan Berat Bada...

115

Terlalu Disiplin Berpotensi Membuat Anak Obesitas

116

Tidur Cegah Kegemukan pada Anak

117

Tips Mencegah Anak Gemuk

118

Tubuh Gemuk dan Risiko Kanker Ginjal

119

Turunkan Berat Badan Tanpa Siksaan

120

TV Picu Darah Tinggi pada Anak Gemuk

121

UMUR Kita Di Nomor Ikat Pinggang!

122

Wah, Pria Gemuk Spermanya pun Buruk!

123

Wanita Obesitas : Beresiko melahirkan bayi rentan ...

124

Waspadai Kegemukan Anak

125

Waspadai Produk Pelangsing